Bangkitkan Tradisi Setelah 48 Tahun, Desa Adat Manukaya Let Gelar Karya Agung dan Ritus Sakral Nyenuk Ngingkup Libatkan Ribuan Krama
Bangkitkan Tradisi Setelah 48 Tahun, Desa Adat Manukaya Let Gelar Karya Agung dan Ritus Sakral Nyenuk Ngingkup Libatkan Ribuan Krama/ mediabadung
Balinese

Bangkitkan Tradisi Setelah 48 Tahun, Desa Adat Manukaya Let Gelar Karya Agung dan Ritus Sakral Nyenuk Ngingkup Libatkan Ribuan Krama

TAMPAKSIRI, MEDIABADUNG.COM – 

Desa Adat Manukaya Let, Kecamatan Tampaksiring, Kabupaten Gianyar, menggelar prosesi sakral Nyenuk Ngingkup pada Sabtu (3/10/2026).

Upacara ini menjadi salah satu bagian inti dari rangkaian besar Karya Agung yang mencakup Tawur Labuh Gentuh, Mupuk Pedagingan, Ngusaba Desa, Ngusaba Nini, hingga Pujawali di Pura Agung dan Pura Tirta Empul. Momentum sejarah ini kembali dilaksanakan oleh krama setempat setelah rentang waktu 48 tahun.

Bendesa Adat Manukaya Let, I Made Mawi Arnata, menjelaskan bahwa prosesi Nyenuk Ngingkup menggambarkan kedatangan para tamu undangan dari empat penjuru mata angin yakni dari selatan, barat, utara, dan timur, yang berkumpul di tengah kawasan suci pura.

Secara filosofis, prosesi mejenukan atau nyenuk ini dimaknai sebagai simbol penghormatan dan penyerahan persembahan tulus kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa yang bersetana di pelinggih pura.

“Upacara pada hari ini adalah upacara yang sangat bermakna sekali, yaitu upacara Nyenuk Ngingkup, rentetan dari upacara yang telah kami lakukan sebelumnya di Tirta Empul. Secara filosofis, yang datang dari empat penjuru mata angin itu hadir di tempat suci ini untuk mempersembahkan sesuatu kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa, ujar Mawi Arnata.

Mawi Arnata menambahkan, di dalam melaksanakan upacara ini, yang pertama adalah ketulusan. “Tatanan yadnya yang kita lakukan betul-betul tidak omon-omon. Kita tidak pernah membeli yang namanya yadnya di pura ini, segala sesuatu sangat original hasil karya masyarakat di desa adat ini,” ujar Mawi Arnata.

Mawi Arnata mengungkapkan, ritus Nyenuk Ngingkup ini merupakan yang pertama kali diselenggarakan semenjak berdirinya Desa Adat Manukaya Let. Berdasarkan kesepakatan prajuru dan seluruh krama melalui paruman, upacara ini nantinya akan dijadikan tradisi berkala yang digelar setiap 30 tahun sekali. Pelaksanaannya disokong oleh kemandirian krama serta penataan finansial dari pengelolaan objek wisata kawasan setempat.

Secara tata wilayah adat dan status pura, terdapat tiga lingkup utama di kawasan tersebut. Selain Pura Agung, terdapat Pelinggih Pura Anyar yang dijadikan tempat stana Ida Bhatara Pura Tirta Empul guna memudahkan persembahyangan masyarakat, serta Pelinggih Pura Sakenan yang menyimpan prasasti batu bertulis. Prasasti tersebut mencatat sejarah perbaikan (dimasamahi) Pura Tirta Empul oleh Raja Sri Candrabaya Singha Warmadewa pada kisaran tahun 92 Masehi.

Pelaksanaan Karya Agung ini melibatkan sinergi penuh antara tiga banjar pengempon—yakni Banjar Tatag, Banjar Bantas, dan Banjar Manukaya Let, serta empat banjar pengemong, yaitu Desa Malet, Penempahan, Calo, dan Tegal Payang. Selain itu, dukungan juga datang dari pengabih seperti Desa Banyad, Kedisan, serta desa-desa adat sekitarnya.

Tokoh masyarakat Manukaya Let yang juga menjabat sebagai Kepala Dinas Kebudayaan Kabupaten Gianyar, I Wayan Adi Parbawa, menegaskan bahwa Tampaksiring merupakan pusat peradaban kuno Bali yang memiliki kaitan erat dengan jejak sejarah permukiman di sepanjang aliran Sungai Pakerisan dan Petanu. Oleh karena itu, Karya Agung ini dirancang sekaligus sebagai media menggalikan dan merawat kembali akar tradisi yang sempat lama tidak direvitalisasi.

“Tampaksiring Utara, khususnya Desa Manukaya bersama seluruh pengempon Tirta Empul, saat ini mesikian atau menyatu dalam komitmen besar. Selain melaksanakan rasa syukur kepada Ida Bhatara, kami sekaligus mengambil hikmah untuk menggali dan merawat kembali nilai-nilai tradisi yang ada. Kegiatan ini menjadi wadah untuk membangkitkan tradisi yang lama tidak direvitalisasi, sekaligus memitigasi gempuran perkembangan zaman melalui balutan seni budaya generasi muda,” tutur Adi Parbawa.

Ia membeberkan, pelaksanaan rangkaian upacara ini melibatkan sekitar 2.000 peserta yang tampil dalam kelompok tetangguran (tabuh) serta pengisi kesenian sakral. Jika diakumulasikan dengan seluruh krama pengusung dan pendukung acara, keterlibatan masyarakat mencapai hampir 15.000 orang.

Beragam seni sakral yang ditampilkan antara lain Rejang Uni, Baris Gede, Rejang Let, gebogan, demung-demung tameng, premas, tapak Ida Bhatara, hingga sekaa-sekaa seni pendukung lainnya.

Di samping Nyenuk Ngingkup, rangkaian karya ini juga menampilkan tradisi khas yang menjadi identitas sakral Desa Adat Manukaya Let, yaitu Tampiog atau Melabuh Geni. Ritus Tampiog dilakukan dengan cara menerjang atau menendang gundukan bara api.

Uniknya, para peserta mulai dari pemangku, prajuru, undagi, hingga sekaa baris menjalankan ritual ini dalam kondisi sadar penuh tanpa melalui proses kerauhan (trance).

Bagi warga setempat, Tampiog dimaknai sebagai simbol mesatia (kesetiaan) serta ungkapan syukur atas kelimpahan hasil bumi yang dianugerahkan oleh Ida Sang Hyang Widhi Wasa. ***

Excited
0
Happy
0
In Love
0
Not Sure
0