Di Balik Kasus, Ada Tekanan yang Harus Ditanggung
oleh: Ni Wayan Desi Suningsih, Mahasiswa Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Udayana
DENPASAR, MEDIABADUNG.COM – Setiap seseorang dalam kehidupannya tidak dapat terlepas dari yang namanya tekanan sosial, tuntutan untuk menyelesaikan diri dengan harapan orang lain, meski terkadang bertentangan dengan apa yang ia yakini.
Sebagai makhluk sosial, manusia senantiasa hidup berdampingan dan berinteraksi dengan individu atau kelompok lain di sekitarnya.
Tekanan sosial merupakan keadaan ketika seseorang menghadapi tuntutan, pengaruh, atau perlakuan dari lingkungan sosial yang dapat memberikan beban terhadap dirinya.
Apabila tuntutan tersebut dirasa membebani atau bertentangan dengan keinginan pribadi individu, kondisi ini berpotensi memicu timbulnya tekanan sosial.
Lingkungan sekitar bisa memengaruhi seseorang, baik secara langsung maupun tidak langsung, sehingga ia terdorong bertindak atau memilih dengan cara tertentu. Pengaruh seperti inilah yang dinamakan tekanan sosial (Astuti, 2024, dalam Putri dkk., 2026).
Tekanan sosial dapat muncul dari berbagai pihak, baik dari keluarga maupun masyarakat. Tekanan yang berasal dari keluarga biasanya berkaitan dengan kondisi atau permasalahan yang terjadi dalam ruang lingkup terdekat, seperti masalah ekonomi maupun persoalan hukum yang menimpa anggota keluarga.

Di Bali Kasus, Ada Tekanan yang Harus Ditanggung/ Ni Wayan Desi Suningsih / mediabadung
Tekanan yang berasal dari masyarakat umumnya berupa stigma, kecurigaan, atau penilaian negatif akibat pandangan lingkungan sekitar terhadap kondisi seseorang. Tekanan seperti inilah yang dialami Jujur Timur atau akrab disapa Timmy, tokoh utama novel Bungkam Suara karya J.S. Khairen.
Sebelum kasus menimpa ayahnya, Timmy mempunyai pekerjaan yang memadai sebagai asisten dosen di kampus ternama di The Great Goljonk, ibu kota Lemunesia.
Setelah ayahnya ditangkap dan divonis, keluarganya jatuh miskin, semua harta disita oleh negara, dan Timmy dipecat secara tidak hormat, “Meski jelasjelas tak ada bukti Timmy ikut terlibat dengan kasus Ayah” (Khairen, 2023: 22).
Di tengah situasi yang serba sulit ini, hanya kebun durian yang mau menerima Jujur Timur dan ibunya untuk bekerja demi bertahan hidup.
Tidak ada yang memukul Timmy atau mengusirnya secara terang-terangan. Ia hanya ditolak di mana-mana, dicurigai, dan diperlakukan seolah ikut terlibat kasus ayahnya. Ia kehilangan pekerjaan, tempat tinggal, dan status yang sudah ia bangun dengan susah payah.
Di saat yang sama, ia harus menanggung stigma dari masyarakat padahal tidak terbukti terlibat. Seluruh keluarganya ikut menanggung akibatnya, mulai dari harta yang disita negara, hidup yang jatuh miskin, sampai ibunya yang harus ikut bekerja di kebun durian.
Timmy dihakimi bukan karena perbuatannya sendiri, tetapi karena nama ayahnya yang melekat padanya. Ketidakadilan ini menjadi faktor yang memperberat tekanan sosial yang dialaminya, sehingga berpengaruh pada kondisi psikologisnya.
Kejanggalan kasus ini terletak pada tempat Timmy dipecat. Kampus yang semestinya menjadi ruang menjunjung bukti dan nalar, tetapi Timmy justru disingkirkan, di sini menunjukkan bahwa stigma bekerja lebih cepat daripada fakta.
Nama ayahnya sudah cukup menjadi alasan untuk mencurigainya, dan tidak ada yang merasa apakah kecurigaan itu benar.
Setelah dipecat pun, tempat kerja lainnya tidak mau menerima Timmy, kecuali kebun durian, hanya tempat itulah yang mau menerima Timmy dan ibunya bekerja sebagai petani durian. Tekanan sosial yang dialami Timmy bukan hanya berupa hinaan, tetapi juga berupa ruang gerak yang semakin sempit.
Tekanan juga datang dari media yang terus menyebarkan berita mengenai kasus ayahnya. Upaya Timmy untuk menghentikan pemberitaan mengenai kasus ayahnya justru direspons dengan tuntutan pembayaran, bukan dengan itikad baik untuk membantu.
“Bisa tidak, berita tentang Ayah tak usah muncul lagi?
Video Ayahku itu menyebalkan!” Timmy jadi teringat kejadian di stasiun terakhir sebelum ia sampai di kebun durian, juga kejadian di pasar saat ia kena tipu oleh pedagang loak.
“Bisa tidak, di Pasar Neang munculkan berita agar orang takut jadi pedagang bodong?”
“Kau harus bayar kami mahal, Timmy.” Dutak tertawa. Diikuti beberapa bawahannya. (2023: 166).
Jujur Timur merasa dihantui terus-menerus oleh publik atas kasus ayahnya, ia meminta kepada pihak media agar tidak menyebarkan berita tersebut.
Melalui peristiwa tersebut, tekanan yang ia hadapi bukan sekadar tekanan sosial biasa, melainkan tekanan yang berlapis.
Keluarganya kehilangan status ekonomi, stigma dari masyarakat, dan pengkhianatan dari pihak yang seharusnya melindungi kebenaran. Di sisi lain, Jujur Timur meminta keadilan agar pedagang bodong di Pasar Neang juga diberitakan.
Hal ini menunjukkan bahwa Jujur Timur ingin memperjuangkan haknya, berusaha memanfaatkan media yang selama ini justru menjadi sumber tekanan baginya sebagai sarana untuk membela diri dan mendapatkan keadilan.
Timmy hanya meminta dua hal yang sederhana, yaitu berhenti dijadikan tontonan dan diberi ruang untuk menyuarakan keadilan, tetapi keduanya hanya direspon dengan tawa.
Media yang seharusnya menjadi tempat berlindung justru berubah menjadi sumber tekanan baru. Di sinilah judul novel ini terasa masuk akal. Timmy tidak dilarang berbicara, tetapi setiap kali ia bersuara, suaranya dibungkam.
Cerita ini tidak jauh berbeda dari kehidupan kita. Hari ini, kabar tentang seseorang bisa menyebar dalam hitungan menit. Kita mudah menilai orang dari kasus yang menimpa keluarganya, dan mudah ikut menyebarkan potongan cerita tanpa bertanya apakah orang itu benar bersalah atau tidak.
Media pun sama seperti dalam novel, tidak selalu berpihak pada mereka yang paling perlu didengar. Hal ini sejalan dengan penelitian dari Sari, dkk. (2025) yang menunjukkan bahwa media massa, terutama media sosial dan portal berita online memiliki pengaruh signifikan dalam membentuk opini publik melalui penyajian berita, sehingga cara media mengemas suatu isu dapat membentuk pandangan masyarakat secara cepat, bahkan sebelum kebenaran suatu kasus itu terbukti.
Berita yang ramai dibicarakan belum tentu berita yang paling penting, dan orang yang paling sering disorot belum tentu orang yang paling bersalah. Kemungkinan suara yang paling keras terdengar hanyalah suara yang mampu membayar.
REFERENSI:
- Khairen, J.S. (2023). Bungkam Suara. PT Gramedia Widiasarana Indonesia.
- Putri, dkk. (2026). Representasi Tekanan Sosial terhadap Perempuan pada cerpen “Mengayat Benih” karya Kadek Desi Nurani dalam Kumpulan Cerpen Manisan Gula Merah Setengah Gigit. Sandibasa IV (Seminar Nasional Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia), Volume 4 (1), 3047–3268.
- Sari, dkk. (2025). Peran Media Massa dalam Membentuk Opini Publik. Prosiding Seminar Nasional Manajemen, Volume 4 (1), 1296–1298.
- Smile Consulting Indonesia. (2025, Maret 20). Apa bedanya tekanan sosial dengan tuntutan sosial?. Smile Consulting Indonesia. https://smileconsultingindonesia.com/article/read/2025/3/apa-bedanya-tekanan-sosialdengan-tuntutan-sosial
***




