Wacana Perubahan Nyepi: Ketum Semeton Pasek Sayangkan Muncul Jelang Hari Raya
DENPASAR, MEDIABADUNG.COM –
Sikap tegas ditunjukkan oleh pucuk pimpinan Mahagotra Pasek Sanak Sapta Rsi (MGPSSR) Pusat terkait polemik perubahan astrologi Nyepi. Tidak hanya dari jajaran pengurus harian, dukungan terhadap kemapanan tatanan ritual juga datang dari jajaran Sulinggih.
Ketua Umum MGPSSR Pusat, I Nyoman Kenak, S.H. menyatakan bahwa meskipun Hindu sangat terbuka terhadap perubahan zaman (alih jagat), wacana yang muncul secara mendadak menjelang hari raya telah memicu kegaduhan yang tidak perlu di kalangan umat.
Kenak menggarisbawahi bahwa pihaknya tidak anti-perubahan. “Tradisi dan nilai kebudayaan kita tidak menolak alih jagat atau perkembangan jaman. Hindu itu dinamis. Namun yang kami sayangkan adalah mengapa wacana ini digulirkan justru saat mendekati Nyepi? Ini yang membuat umat gaduh,” jelas Nyoman Kenak.
Menurutnya, perubahan yang bersifat fundamental harus dibicarakan secara tenang dalam forum kajian akademis bersama para ahli wariga, bukan menjadi bola panas di ruang publik menjelang ritual besar.
Kajian Tri Pramāṇa dan Dampak Sistemik
Kedua tokoh MGPSSR Pusat ini mengingatkan kembali bahwa pelaksanaan Nyepi saat ini telah lulus uji Tri Pramāṇa:
- Pratyakṣa: Tilem secara alamiah adalah energi peleburan (Pralina), sangat tepat untuk Tawur Kesanga.
- Anumāna: Logika tahun baru dimulai pada hari pertama (Penanggal Apisan).
- Āgama: Berpedoman pada rujukan agung seperti Negarakertagama dan Raja Purana Besakih.
“Jika tatanan ini diubah secara mendadak, rangkaian dari Melasti hingga Ngembak Geni akan berantakan secara sistemik. Hal ini berisiko mengganggu kekhusyukan umat,” tambah Nyoman Kenak.
Imbauan kepada Keluarga Besar Pasek, Kenak mengimbau seluruh keluarga besar Mahagotra dan umat Hindu pada umumnya untuk tetap teguh memegang keputusan resmi yang telah ada.
Ia meminta umat untuk tetap fokus pada persiapan Catur Brata Penyepian dan tidak terombang-ambing oleh wacana yang belum memiliki keputusan tetap dari lembaga berwenang (PHDI).
“Mari kita jaga persatuan. Jangan sampai wacana ini memecah konsentrasi kita dalam menjalankan kewajiban suci. Biarlah proses kajian akademis berjalan di tempatnya, dan umat tetap melaksanakan Nyepi dengan penuh ketenangan,” tutupnya. ***




